Pada Sabtu, 8 Maret 2025 menjadi hari yang bermakna bagi para pendidik di komplek Xaverius Panjang. Bertempat di Aula Sekolah, semua SDM dari berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP Xaverius Panjang dan TK Xaverius Kalianda berkumpul untuk mengikuti kegiatan rekoleksi dengan tema “Meneladan Semangat Guru Sejati”. Acara yang berlangsung penuh khidmat ini bertujuan untuk memberikan pencerahan, memperkuat semangat, dan membangun komitmen para pendidik dalam menjalankan tugas mulia mereka.
Romo Nicolaus Heru A, sebagai narasumber utama, membuka rekoleksi dengan refleksi mendalam tentang hakikat menjadi seorang guru. Dalam paparannya, Romo Heru mengajak para guru untuk merenungkan kembali panggilan mereka sebagai pendidik yang sejati, dengan mencontoh teladan Yesus Kristus sebagai Sang Guru Sejati. Beliau juga mengungkapkan bahwa menjadi seorang guru bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga meneladani nilai-nilai kehidupan yang dapat menginspirasi dan membimbing anak-anak didik
Sebagai landasan refleksi, peserta diajak untuk merenungkan kisah dari Injil Lukas 5:2-6 tentang panggilan para murid pertama. Dalam perikop tersebut, Simon Petrus yang telah bekerja sepanjang malam tanpa hasil, dengan iman mengikuti perintah Yesus untuk sekali lagi menebarkan jala. Hasilnya sungguh mengejutkan—jala mereka penuh dengan ikan hingga hampir robek. Ketekunan, kepercayaan, dan semangat untuk terus berusaha meskipun dalam kondisi yang sulit, mirip dengan tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam menjalankan profesinya.
Kegiatan rekoleksi juga dihadiri oleh perwakilan Yayasan Bidang Human Capital, Bapak Joko Winarno dan Bapak Yoga Raharja. Dalam sambutannya, Bapak Joko menegaskan komitmen yayasan untuk terus mendukung pengembangan profesionalisme para guru. Sementara itu, Bapak Yoga Raharja menambahkan pentingnya keseimbangan antara kompetensi profesional dan spiritual bagi para pendidik.
Selain sesi refleksi, rekoleksi juga diisi dengan kegiatan berbagi pengalaman antar guru. Para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan tentang peran guru, jiwa guru, nilai-nilai bagi guru dan suka duka.
Kegiatan ditutup dengan misa bersama di gereja dan di lanjut makan bersama untuk menanamkan kembali persaudaraan dan kebersamaan. Tidak lupa juga untuk mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama antar tingkat pendidikan.
Dalam penutupnya, Romo Heru mengingatkan bahwa keberhasilan seorang guru tidak diukur dari prestasi akademik semata, tetapi juga dari seberapa besar pengaruh positif yang ditanamkan dalam hati dan pikiran anak didik. Menjadi guru sejati adalah menjadi pribadi yang dikenang bukan karena pelajaran yang diajarkan, melainkan karena nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan.









